Makalah Ilmu Pendidikan Islam

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian untuk membentuk manusia ideal. Manusia ideal adalah manusia yang sempurna akhlaknya. Yang nampak dan sejalan dengan misi kerasulan Nabi Muhammad SAW, yaitu menyempurnakan akhlak.
Agama Islam adalah agama yang mengajarkan kepada umat manusia mengenai berbagai aspek kehidupan yang sifatnya duniawi maupun yang sifatnya ukhrawi. Salah satu ajaran islam adalah mewajibkan kepada umatnya untuk melaksanakan pendidikan, karena dengan pendidikan manusia dapat memperoleh bekal kehidupan yang baik dan terarah.
Adapun yang dimaksud dengan pendidikan Islam sangat beragam, hal ini terlihat dari definisi pendidikan Islam yang dikemukakan oleh beberapa tokoh pendidikan berikut ini :
Menurut Drs. Ahmad D. Marimba: Pendidikan islam adalah bimbingan jasmani, rohani berdasarkan hukum-hukum agama islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.
Menurut Musthafa Al-Ghulayaini: Pendidikan Islam ialah menanamkan akhlak yang mulia di dalam jiwa anak dalam masa pertumbuhannya dan menyiraminya dengan air petunjuk dan nasihat, sehingga akhlak itu menjadi salah satu kemampuan (meresap dalam) jiwanya kemudian buahnya berwujud keutamaan, kebaikan dan cinta bekerja untuk kemanfaatan tanah air.
Namun dari perbedaan pendapat tersebut dapat diambil kesimpulan adanya persamaan yang secara ringkas dapat disimpulkan menjadi Pendidikan Islam ialah bimbingan yang dilakukan oleh seorang dewasa kepada anak didik dalam masa pertumbuhan agar ia memiliki kepribadian muslim. 


B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa definisi dan konsep dari pendidikan Islam ?
2.      Apa visi misi pendidikan Islam?
3.      Apa dasar-dasar pendidikan islam?
4.      Apa manfaat, tujuan, dan fungsi Pendidikan Islam
5.      Bagaimana proses belajar mengajar dalam pendidikan islam?
6.      Apa saja komponen proses belajar mengajar dalam islam?

C.    TUJUAN MAKALAH
1.      Untuk mengetahui definisi dan konsep dari pendidikan islam
2.      Untuk mengetahui visi misi pendidikan islam
3.      Untuk mengetahui dasar-dasar pendidikan islam
4.      Untuk mengetahui manfaat, tujuan, dan fungsi pendidikan islam
5.      Untuk mengetahui bagaimana proses belajar mengajar dalam pendidikan islam
6.      Untuk mengetahui komponen proses belajar mengajar dalam islam











BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Pendidikan Islam
Ilmu pendidikan islam dapat diartikan sebagai studi tentang proses kependidikan yang didasarkan pada nilai-nilai filosofis ajaran islam berdasarkan al-quran dan sunnah Nabi Muhammad SAW. Dengan redaksi yang agak singkat, ilmu pendidikan islam adalah ilmu pendidikan yang berdasarkan islam.
Dua definisi ilmu pendidikan islam tersebut, selain menjelaskan karakteristiknya, yakni ajaran islam yang nanti akan dijelaskan, secara implistit menunjukkan adanya dua konsep yang melandasi rancang bangun ilmu pendidikan islam, yaitu konsep education academic, dan konsep paedagogie.
Pengembang ilmu pendidikan islam dengan menggunakan konsep education academic akan menuju kepada ilmu yang bersifat terbuka, luwes, dan menuntut redefinisi secara terus menerus. Dengan menggunakan konsep education academic, ilmu pendidikan islam akan menerima pengaruh yang luas dari berbagai disiplin ilmu yang sesuai dan terus berkembang, yaitu ilmu psikologi, filsafat, sejarah, sosiologi, kebudayaan, politik, manajemen, teknologi informasi, hukum, dan lainnya. Berdasarkan pada konsep education academic ini ilmu pendidikan islam berkonsentrasi pada dataran teoretis dan idealis yang selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar epistemology bagi keperluan rancang bangun desain pendidikan. Desain dari rumusan konsep tentang visi, misi, tujuan, kurikulum, proses belajar mengajar, guru, murid, manajemen, sarana prasarana, pembiayaan, lingkungan, evaluasi, dan aspek pendidikan lainnya, akan mengambil manfaat dari ilmu pendidikan islam yang berbasis education academic ini.
Ilmu pendidikan islam menurut konsep paedagogie hanya akan memperhatikan interaksi-interaksi yang terjadi antara seorang dewasa dengan anak-anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaan, dengan menempatkan masalah perkembangan kesadaran nilai dan tata nilai sebagai pusat dan akhir dari segenap tindakan pendidikan. Sementara itu, tindakan pengajaran merupakan medium untuk membawa peserta didik kepada tata nilai tersebut. Dalam kaitan ini, maka pendidikan mau tidak mau harus berkonsentrasi pada wilayah kajian yang membahas masalah nilai dan tata nilai (filsafat), perkembangan tata nilai dalam masyarakat (antropoligie dan sosiologie), pertumbuhan kesadaran nilai dan tata nilai dari peserta didik (psikologi), dan cara-cara mengkomunikasikan nilai dan tata nilai kepada peserta didik (sibernetika) yang menopang didaktik dan metodik.
Dengan demikian, sesungguhnya antara ilmu pendidikan islam yang berdasarkan konsep education academic dan paedagogie dapat dipertemukan. Ilmu yang berdasarkan konsep education academic memberi landasan epistemologist dan teoretis bagi rancang bangun desain pendidikan, sedangkan ilmu pendidikan dengan konsep paedagogie memberikan landasan bagi praktik pendidikan.
B.     Visi dan Misi Pendidikan Islam
Secara terminologi, visi yaitu tujuan jangka panjang, cita-cita masa depan, keinginan besar yang hendak diwujudkan, angan-angan, khayalan, dan impian ideal tentang sesuatu yang hendak diwujudkan.
Visi pendidikan islam sesungguhnya melekat pada cita-cita dan tujuan jangka panjang ajaran islam itu sendiri, yaitu mewujudkan rahmat bagi seluruh umat manusia, sesuai dengan firman Allah SWT :
“Tidaklah kami utus engkau(Muhammad) melainkan agar menjadi rahmat bagi seluruh alam. (QS. al-Anbiya(21):107)”
Dengan demikian, visi pendidikan islam dapat dirumuskan sebagai berikut:
“Menjadikan pendidikan islam sebagai pranata yang kuat, berwibawa, efektif, dan kredibel dalam mewujudkan cita-cita ajaran islam.”
Dengan visi tersebut, maka seluruh komponen pendidikan islam sebagaimana tersebut diatas, harus diarahkan kepada tercapainya visi tersebut.
Dari pengertian kebahasaan, maka misi dapat diartikan sebagai tugas-tugas atau pekerjaan yang harus dilaksanakan dalam rangka mencapai visi yang ditetapkan.
Misi pendidikan islam adalah perutusan atau utusan yang diutus oleh seseorang atau lembaga untuk melakukan suatu pekerjaan yang penting dan strategis. Seluruh pembawa risalah atau ajaran, seperti para nabi, wali, ulama dan dai, pada suatu kelompok atau umat.
Misi pendidikan dalam islam dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Mendorong timbulnya kesadaran umat manusia agar mau melakukan kegiatan belajar mengajar
2.      Melaksanakan kegiatan belajar mengajar sepanjang hayat
3.      Melaksanakan program wajib belajar
4.      Melaksanakan program pendidikan anak usia dini
5.      Mengeluarkan manusia dari kehidupan kegelapan kepada kehidupan yang terang benderang
6.      Memberantas sikap jahiliyah
7.      Menyelamatkan manusia dari tepi jurang kehancuran yang disebabkan karena pertikaian
8.      Melakukan pencerahan batin kepada manusia agar sehat rohani dan jasmaninya
9.      Menyadarkan manusia agar tidak melakukan perbuatan yang menimbulkan bencana dimuka bumi.

C.    Dasar-Dasar Pendidikan Islam
Dasar utama pendidikan dalam islam tertumpu dalam Al-Quran dan sunnah nabi. Diatasa dua pilar ini konsep dasar pendidikan islam. Titik tolaknya dimulai dari konsep manusia menurut islam.
1.      Al-Qur’an
Abdul Wahab Khallaf seperti yang dikutif Ramayulis mendefinisikan Al-Quran adalah “kalam Allah yang diturunkan melalui malaikat Jibril kepada hati Rasulullah anak abdullah dengan lafaz bahasa arab dan makna hakiki untuk menjadi hujjah bagi Rasullah atas kerasulannya dan menjadi pedoman bagi manusia dengan penunjuknya serta beribadah membacanya”. Umat islam sebagai suatu umat yang dianugerahkan Tuhan suatu kitab suci Al-Quran, yang lengkap dengan segala petunjuk yang meliputi seluruh aspek kehidupan dan bersifat universal, sudah barang tentu dasar pendidikan mereka adalah bersumber kepada falsafah hidup yang berdasarkan kepada Al-Quran.Pada masa awal pertumbuhan islam, Nabi Muhammada Saw adalah sebagai pendidik pertama, telah menjadikan Al-Quran sebagai dasar pendidikan islam di samping Sunnah beliau sendiri.
2.   Sunnah
Sunnah dapat dijadikan dasar pendidikan islam karena sunnah hakikatnya tak lain adalah penjelasan dan praktek dari ajaran Al-Qurân itu sendiri, disamping memang sunnah merupakan sumber utama pendidikan islam karena karena Allah Swt menjadikan Muhammad Saw sebagai teladan bagi umatnya.
      Menurut Haidar P. Daulay dasar pendidikan islam adalah suatu konsep yang menggambarkan ciri suatu bentuk kebaikan dalam hal yang Nampak ataupun yang tidak terlihat.

D. Manfaat, Tujuan, dan Fungsi Pendidikan Islam

Filsafat pendidikan mengemukakan bahwa dalam pendidikan islam memiliki manfaat, tujuan, dan fungsi sebagai berikut.
Pertama, membantu menemukan masalah-masalah pendidikan dan sekaligus memberikan cara untuk mengatasinya. Berdasarkan cara kerjanya yang sistematik, radikal, universal, mendalam, spekulatif, dan rasional, filsafat pendidikan dapat menunjukkan alternatif-alternatif pemecahan permasalahan pendidikan, seperti masalah rendahnya mutu pendidikan, tidak efektifnya proses belajar mengajar, tidak tercapainya tujuan pendidikan, rendahnya mutu tenaga pendidikan, dan lain sebagainya.
Kedua, memberikan informasi yang komprehensif, mendalam, dan sistematik tentang hal hal yang harus dipertimbangkan dalam merumuskan dan mendesain konsep pendidikan, seperti informasi tentang manusia dengan berbagai potensi, bakat dan minat yang dimilikinya; tentang alam jagat raya dengan berbagai macam ragam, sifat, dan karakternya; tentang ilmu pengetahuan tentang sumber (ontology), metodologi (epistemology), dan penggunaannya (aksiologi)nya, tentang akhlak (etika) dengan berbagai macam dan proses menanamkannya dalam diri manusia, tentang masyarakat dengan berbagai stratifikasinya, tentang nilai-nilai budaya dan lain sebagainya. Informasi tentang berbagai hal yang dikaji dalam filsafat tersebut selanjutnya digunakan dalam merumuskan visi, misi, tujuan, kurikulum, proses belajar mengajar, dan berbagai kompenen pendidikan lainnya.
Ketiga, memberikan dorongan bagi dilakukannya aktivitas pendidikan yang disebabkan karena memiliki pengetahuan tentang sesuatu yang sistematik, mendalam dan komprehensif tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan pendidikan.
Keempat, memberikan informasi tentang proses pendidikan, termasuk pendidikan islam, tentang bermutu atau tidaknya pendidikan tersebut, atau tercapai tidaknya tujuan pendidikan yang ditetapkan, serta berbagai kelemahan lainnya. Dengan bantuan filsafat pendidikan akan dapat diketahui letak kelemahan pendidikan tersebut, dan sekaligus memberikan alternatif-alternatif perbaikan dan pengembangannya.
Dengan memerhatikan tujuan dan manfaat filsafat pendidikan tersebut diatas, maka filsafat pendidikan islam memiliki berbagai fungsi sebagai berikut.
Pertama, fungsi spekulatif, yaitu berusaha untuk mengerti keseluruhan persoalan pendidikan dan mencoba merumuskannya dalam satu gambaran pokok sebagai pelengkap bagi data-data yang telah ada dari segi ilmiah. Kedua, fungsi normatif, yaitu menentukan arah dan maksud pendidikan. Hal yang demikian terlihat dari adanya rumusan visi, misi, dan tujuan pendidikan, yakni keadaan manusia atau masyarakat yang diinginkan oleh pendidikan, yang semuanya itu dapat digambarkan dengan bantuan filsafat pendidikan. Ketiga, fungsi kritik, yaitu memberikan dasar bagi pengertian kritis dan rasional dalam mempertimbangkan dan menafsirkan data-data ilmiah. Keempat, fungsi teoretis, yakni memberikan prinsip-prinsip umum bagi suatu kegiatan praktik dalam dunia pendidikan.
E.     Bagaimana Proses Belajar Mengajar dalam Islam
Proses belajar mengajar dapat diartikan secara sederhana yaitu sebagai kegiatan interaksi dan saling memengaruhi antara pendidik dan peserta didik, dengan fungsi utama pendidik memberikan materi pelajaran atau sesuatu yang memengaruhi peserta didik, sedangkan peserta didik menerima pelajaran, pengaruh atau sesuatu yang diberikan oleh pendidik.
Pada surat al-Alaq (96) ayat 1 hingga 5, proses belajar mengajar berlangsung dari tuhan kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui metode membaca (Iqra’) Tuhan (melalui malaikat Jibril) ingin agar Nabi Muhammad SAW membacakan segala sesuatu yang disampaikan oleh malaikat Jibril. Para ulama tafsir melihat bahwa kata kerja perintah membaca (fi’il amr), yakni kalimat iqra’ (bacalah) pada ayat pertama al-Alaq tersebut tidak ada objek atau maf’ul-nya. Hal ini menunjukkan bahwa yang dibaca itu mencakup berbagai hal yang amat luas,yakni tidak hanya membaca yang tersurat atau tertulis, melainkan termasuk yang bersirat atau tidak yang tertulis. Adanya ayat-ayat tuhan yang terdapat dialam jagat raya, fenomena sosial, dan lainnya, termasuk hal-hal yang harus dibaca. Proses belajar mengajar sebagai digambarkan pada ayat tersebut juga melibatkan visi dan tujuan, yaitu berdasarkan nama Tuhan (bismi rabbika(dengan menyebut nama Tuhanmu) dan wa rabbuka al-akram (Tuhanmu lebih mulia), dalam arti agar bacaan tersebut berisi ajaran dan petunjuk Tuhan, ditujukan untuk membuktikan keagungan Allah, dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Adapun manfaatnya adalah untuk manusia. Melalui visi dan tujuan ini, maka ideologi pendidikan Islam dapat dikenali, yaitu ideologi yang berbasis pada theo-antropocentris. Yakni memusatkan pada kebutuhan manusia dengan jalan mengikuti petunjuk Tuhan. Selain itu, proses belajar mengajar dalam ayat tersebut juga melibatkan sarana prasarana yang direpsentasikan dngan kosakata pena dalam arti yang seluas-luasnya, yakni alat tulis, alat perekam, alat foto, alat penyimpan data, dan sebagainya; serta adanya kurikulum, direpsentasikan dengan kata allama al-insan ma’lam ya’lam, yakni mengajarkan segala sesuatu yang belum diketahui manusia.
Selanjutnya pada surat Al-Baqarah ayat 31, proses belajar mengajar berlangsung dari Tuhan (sebagai maha guru) kepada adam (sebagai mahasiswa). Adapun materi yang diajarkan pada proses belajar mengajar tersebut berupa nama-nama segala sesuatu, termasuk nama-nama benda, yakni hukum-hukum alam yang terdapat dialam jagat raya, yang semuanya itu sebagai bukti adanya nama-nama atau tanda-tanda kekuasaan Tuhan. Adapun metode yang digunakan adalah metode Al-Ta’lim, yakni memberikan pengertian, pemahaman,wawasan dan pencerahan tentang segala sesuatu dalam rangka membentuk pola pikir (mindset).
Selanjutnya pada surat Luqman ayat 12, proses belajar mengajar berlangsung dari Tuhan kepada Luqman Al-hakim, materi yang diajarkan berupa hikmah, dan tujuannya agar luqman menjadi orang yang bersyukur, yakni selain memuji keagungan Allah SWT, juga mau mengamalkan ilmunya itu dalam kehidupan sehari-hari, serta mengajarkan kepada anak-anaknya, dan seterusnya.
Selanjutnya pada Hadist Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh imam muslim dari umar, proses belajar mengajar dari Jibril (atas perintah Tuhan) kepada Nabi Muhammad SAW. Meode yang digunakan berupa dialog dan tanya jawab, tempat yang digunakan berupa majelis, posisi murid dalam bentuk halakha (duduk bersila dalam keadaan melingkar),dan materi yang diajarkan berupa pokok-pokok agama yang berkenaan dengan dasar-dasar (rukun) keimanan, keislaman, keikhsanan, dan tentang tanda-tanda hari kiamat.
Dalam pengertian yang lebih luas dan sistematik, proses belajar mengajar adalah kegiatan yang melibatkan sejumlah komponen yang antara satu dengan lainnya saling berkaitan. Komponen tersebut antara lain meliputi visi dan tujuan yang ingin dicapai, guru yang professional dan siap mengajar, murid yang siap menerima pelajaran, pendekatan yang akan digunakan, strategi yang akan diterapkan, metode yang akan dipilih, teknik dan taktik yang akan digunakan.
Dalam kegiatan belajar mengajar dapat diumpamakan, bahwa bakat, minst, kecerdasan, dan berbagai kemampuan peserta didik merupakan potensi yang baru akan berharga dan dihormati sebagai manusia apabila berbagai potensi tersebut diolah, diproses, dibina, dibentuk, dan dikembangkan menjadi sesuatu yang bernilai dan berguna bagi manusia. Proses mengubah berbagai hal yang dimiliki manusia yang masih berupa potensi menjadi sesuatu yang tampak jelas nilai guna dan manfaatnya dan selanjutnya menjadi sesuatu yang aktul itulah sesungguhnya hakikat proses belajar mengajar.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan sebuah proses belajar mengajar itu dapat dilihat pada sejauh mana proses tersebut mampu menumbuhkan, membina, membentuk dan memberdayakan segenap potensi yang dimiliki manusia, atau pada sejauh mana ia mampu memberikan perubahan secara segnifikan pada kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik. Sebagai contoh, bagaimana ia mampu membuat anak yang tidak dapat membaca Al-Qur’an menjadi mampu membacanya; dari yang semula tidak memahami sebuah teori menjadi memahaminya dengan benar; dari semula tidak dapat mengoperasikan atau menggunakan sebuah peralatan teknologi, menjadi mampu menggunakannya secara mahir.
Proses belajar mengajar secara singkat ialah proses memanusiakan manusia, yakni mengaktualisasikan berbagai potensi manusia, sehingga potensi-potensi tersebut dapat menolong dirinya, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negaranya. Sebuah proses belajar mengajar dapat dikatakan gagal, jika antara sebelum dan sesudah mengikuti sebuah kegiatan belajar mengajar, namun tidak ada perubahan apa-apa pada diri siswa atau mahasiswa. Jika sebelum mengikuti kegiatan belajar mengajar ia belum dapat membaca Al-Qur’an atau kitab kuning, dan sesudah mengikuti kegiatan belajar juga masih belum dapat membaca kitab-kitab tersebut, maka dapat dikatakan, bahwa kegiatan belajar mengajar tersebut dapat dikatakan belum berhasil. 
F.     Komponen Proses Belajar Mengajar dalam Islam
Komponen atau aspek yaitu: aspek tujuan, pendekatan, metode, teknik, dan taktik. Berbagai komponen atau aspek tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut.
1.      Menentukan tujuan belajar mengajar
Tujuan belajar mengajar adalah sejumlah kompetensi atau kemampuan tertentu yang harus dikuasai oleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar. Tujuan belajar mengajar tersebut secara lebih detail dan terperinci harus dirumuskan oleh setiap guru yang akan belajar. Dalam mata pelajaran Al-Qur’an misalnya, tujuannya harus diperjelas, misalnya agar peserta didik dapat membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan benar dan fasih, atau agar peserta didik dapat menerjemahkan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut dengan benar.

2.      Menetukan Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar
Pendekatan dapat diartikan sebagai cara pandang atau titik tolak yang digunakan dalam menjelaskan sesuatu masalah. Karena cara pandang atau titik tolak yang dapat digunakan dalam menjelaskan sesuatu masalah itu amat banyak, maka kesimpulan yang akan dihasilkanpun  akan berbeda-beda. Dengan demikian, pendekatan dalam proses belajar mengajar adalah cara pandang atau titik tolak yang digunakan seoranng guru dalam melakukan kegiatan belajar mengajar.

3.      Menentukan Metode Pengajaran
Metode mengajar adalah cara atau langkah-langkah sistematik yang ditempuh oleh seorang guru dalam menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik. Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir  menyebutkan adanya metode diakronis, sinkronis, analitis, problem solving, empiris, induktif, dan deduktif. Sementara itu, Hery Noel Ali mengemukakan adanya metode ceramah, tanya jawab, diskusi, pemberian tugas, dan lain-lain. Berbagai metode pengajaran tersebut pada intinya ialah berbagai alternatif jalan yang dapat ditempuh agar pengajaran dapat berjalan efektif, memberi pengaruh dan mampu memberikan perubahan kepada peserta didik.

4.      Menentukan Teknik Mengajar
Teknik mengajar adalah cara-cara yang terukur, sistematik, dan spesifik dalam melakukan suatu pekerjaan. Perbedaan teknik yang digunakan akan menetukan perbedaan hasil, tingkat kecepatan dan kepuasan kepada orang yang terlibat atau merasakan manfaat dari pekerjaan tersebut.

5.      Menetukan Taktik
Taktik adalah rekayasa atau siasat dalam arti positif yang digunakan oleh seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan. Dalam kegiatan proses belajar mengajar terdapat berbagai taktik yang dapat digunakan. Misalnya taktik yang berkaitan dengan upaya mendorong para siswa agar dating tepat waktu, mengerjakan tugas-tugas dengan baik, agar siswa meningkat perolehan nilai ujiannya, agar gemar membaca, dan lain sebagainya. Semua taktik ini perlu dilakukan dalam rangka mendukung pelaksanaan metode pengajaran yang telah dipilih berdasaran pendekatan yang telah ditetapkan.





























BAB III

PENUTUP

A.    KESIMPULAN
            Ilmu pendidikan islam dapat diartikan sebagai studi tentang proses kependidikan yang didasarkan pada nilai-nilai filosofis ajaran islam berdasarkan al-quran dan sunnah Nabi Muhammad SAW.
Visi pendidikan islam sesungguhnya melekat pada cita-cita dan tujuan jangka panjang ajaran islam itu sendiri, yaitu mewujudkan rahmat bagi seluruh umat manusia, sesuai dengan firman Allah SWT.
Misi pendidikan islam adalah perutusan atau utusan yang diutus oleh seseorang atau lembaga untuk melakukan suatu pekerjaan yang penting dan strategis.
Proses belajar mengajar dalam islam pertama berlangsung dari Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui metode membaca (Iqra’) Tuhan (melalui malaikat Jibril) ingin agar Nabi Muhammad SAW membacakan segala sesuatu yang disampaikan oleh malaikat Jibril dan sampailah ilmunya kepada kita pada saat ini.

B.     SARAN
Bagi seorang muslim, terutama mereka yang menekuni bidang pendidikan Islam, disarankan untuk betul-betul mengetahui dan memahami dasar-dasar, norma atau etika serta harus mampu untuk mengaplikasikannya dalam proses belajar mengajar agar dapat menghasilkan intelektual muslim yang cerdas, berwawasan dan taat dalam beribadah, sehingga tujuan penciptaan manusia yaitu untuk beribadah kepada Allah serta menjadi khalifah dimuka bumi benar-benar dapat dijalankan.





DAFTAR PUSTAKA

Nata, Abuddin. 2009. Ilmu Pendidikan Islam dengan Pendekatan Multidisipliner. Depok: PT RajaGrafindo Persada.
                     
Nata, Abuddin. 2012. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: PT Kencana Prenada.

Hensu, Uwa. “Konsep Dasar Pendidikan Islam”. 28 Maret 2017.






Komentar